Living life and Make it Better

life, learn, contribute

Endy Muhardin

Software Developer berdomisili di Jabodetabek, berkutat di lingkungan open source, terutama Java dan Linux.

Blog Client

Sekarang ini banyak aplikasi internet yang juga menyediakan desktop client. Contoh paling klasik adalah e-mail. Server email komersial biasanya menyediakan akses web based. Tetapi selain melalui browser, email juga bisa didownload dan dibaca secara offline menggunakan desktop mail client, seperti KMail, Mozilla Thunderbird, atau Microsoft Outlook.

Tidak hanya email, blog juga sekarang punya desktop client. Aplikasi blog yang saya gunakan adalah Wordpress, termasuk salah satu yang paling populer. Jadi, banyak aplikasi client yang sudah mendukung Wordpress.

Salah satunya, yang saya gunakan untuk menulis artikel ini adalah Performancing. Performancing ini diinstal sebagai plugin di browser Mozilla Firefox. Instalasinya cukup mudah, cukup download langsung di situs Mozilla.

Setelah diinstal, di pojok kanan bawah browser akan muncul icon kecil.

Mozilla with Performancing Klik icon tersebut, dan tampilan aplikasi segera keluar, mengambil tempat separuh layar browser.

Performancing User Interface Kita dapat meregistrasi beberapa blog sekaligus di panel sebelah kanan. Berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Pilih tipe blog

Select Blog type

  1. Masukkan informasi tentang blog kita

Blog URL

  1. Isi username dan password yang biasa digunakan untuk posting artikel

Enter username and password

  1. Selesai

Finished !!!

Setelah blog didaftarkan, kita bisa langsung menulis post di kotak yang telah disediakan. Kategori artikel juga dapat dipilih langsung di tab Categs di panel sebelah kanan.

Tulis artikel Anda, pilih kategori yang sesuai, lalu … klik Publish. Kalau Anda bisa membaca artikel ini, berarti Performancing telah berhasil menunaikan tugasnya dengan benar.

Keren … :D


Upgrade dan Migrasi

Sebetulnya sudah lama saya mau memindahkan hosting blog ini. Alasan pertama, blog ini menggunakan komputer kantor yang sewaktu-waktu bisa diminta yang punya. Kedua, kehadirannya di internet sangat ditentukan oleh sampai kapan saya mendapatkan IP Public. Kalau sewaktu-waktu pindah kantor, blog ini bisa terancam offline.

Jadi, mumpung masih ada akses internet bebas, bisa ftp sesuka hati, dan masih tidak diburu waktu, saya pindahkan **.artivisi.com sedikit demi sedikit ke tempat yang baru. tutorial.artivisi.com sudah pindah duluan. Karena dia tidak butuh database, migrasinya lebih mudah, tinggal upload dan edit config sedikit, beres.

Untuk blog ini, sekalian pindah saya mau upgrade ke versi 2.0.1 yang terbaru. Untungnya di website Wordpress sudah tersedia dokumentasinya. Berikut langkah-langkah yang saya lakukan:

**1. Backup dan Replikasi. **

Duplikasi folder blog berikut isinya dan juga databasenya. Intinya adalah, saya ingin ada dua blog kembar yang berjalan bersamaan. Dengan demikian, tidak hanya backup yang dilakukan, tapi juga memastikan hasil backup bekerja dengan baik.

2. Lakukan upgrade

Upgrade saya lakukan di hasil duplikasi, bukan di blog asli. Jadi kalo terjadi sesuatu yang salah, blog asli tidak terpengaruh.

Langkah upgrade cukup mudah: matikan semua plugin, hapus semua file kecuali** wp-config.php**, ganti dengan file baru, browse ke halaman upgrade. Dengan satu kali tekan tombol, upgrade berjalan dengan sangat mulus. Luar biasa.

3. Upload ke server baru

Blog baru yang sudah versi 2.0.1 diupload ke tempat hosting baru dengan menggunakan FTP. Setelah itu, database dibuat dan diisi dengan menggunakan dump dari database di server lama (versi setelah upgrade). Sesuaikan file wp-config.php bila perlu (nama database, username, password biasanya berbeda). 4. Verifikasi

Terakhir, kontak teman-teman anda untuk mencoba mengunjungi blog yang baru. Mudah-mudahan tidak ada masalah. :D

Selamat mencoba


VMWare Gratis !!!

Tahu VMWare? Itu adalah aplikasi yang dapat membuat komputer baru di dalam komputer kita.

Jadi nanti, kalo diinstal, kita bisa bikin komputer palsu (virtual machine). Komputer palsu ini dapat dinyalakan dan dimatikan. Kalo dinyalakan, tampilannya benar-benar seperti komputer menyala, yaitu ada memory check, bisa masuk BIOS, bahkan bisa boot via jaringan segala.

Setelah dibuat, komputer palsu tersebut bisa kita instal sistem operasi apa saja. Jumlah komputer palsu yang dibuat juga bisa lebih dari satu. Setiap komputer palsu bisa kita kasi jatah memori dan harddisk sesuai keinginan. Jadi bisa saja terjadi, dalam satu komputer kita menjalankan tiga distro linux (Ubuntu, Debian, Fedora) dan dua versi windows (XP dan 2000) secara berbarengan.

Aplikasi VMWare ini sangat penting apabila kita mengembangkan aplikasi yang harus bisa bekerja dengan baik di berbagai sistem operasi dan konfigurasi. Jadi kita tidak perlu punya banyak komputer untuk bisa mengetes aplikasi secara simultan.

Beberapa minggu yang lalu, VMWare menggratiskan aplikasi servernya. Wah … langsung saya buru-buru download dan instal.

Instalasi di Linux (Debian Sarge) membutuhkan kernel header. Jadi, lakukan ini dulu:

apt-get install kernel-headers-2.6-686-smp

Baru kemudian instal VMWare.

Instalasi VMWare gampang, tinggal login sebagai root, jalankan skrip instalasi, dan next beberapa kali. Kita akan diminta memasukkan serial number. Serial number ini akan dikirim ke alamat email kita pada saat kita registrasi di websitenya. Untuk bisa mendownload kita harus teregistrasi terlebih dahulu.

Setelah VMWare terinstal, kita dapat mulai membuat komputer palsu sebanyak mungkin. Sekarang saya bisa menggunakan Visio dan M$ Project di komputer Linux saya. :D


Turut Berduka Cita

Dengan ini saya mengucapkan turut berbelasungkawa atas dilay-off nya rekan seperjuangan dari jaman kost di Adhyaksa dulu.

Lay-off –atau bahasa Indonesianya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)– walaupun pahit, merupakan hal yang sangat wajar di dunia kerja. Saking wajarnya, sekarang sudah ada reality show yang mengeksploitasi momen-momen emosional pada waktu orang dipecat. Acara ini juga sudah dibuat versi Indonesianya.

Meskipun wajar dan lumrah, ada beberapa hal yang saya sesalkan atas kejadian ini. Pertama, adalah tenggang waktunya yang begitu singkat. Kedua, masalah pesangon yang tidak jelas.

Kalau kita mengundurkan diri dari perusahaan (berhenti atas kemauan sendiri), umumnya kita diminta untuk menyampaikan pemberitahuan terlebih dahulu. Tenggang waktu antara pemberitahuan dan hari terakhir bekerja bervariasi. Ada perusahaan yang minta waktu dua minggu –seperti yang dialami Sandra Bullock–, dan ada juga yang sebulan.

Itu yang terjadi dari sisi perusahaan, apabila kita yang memecat perusahaan (alias mengundurkan diri). Tapi bagaimana jika sebaliknya?

Jika perusahaan butuh waktu untuk menggantikan karyawan yang resign, karyawan yang dipecat juga idealnya diberikan tenggang waktu yang wajar untuk berusaha menggantikan periuk nasinya. Tiga hari sangat tidak cukup untuk browsing dan memasukkan lamaran di website lowongan kerja. Apalagi kalau memperhitungkan faktor apes seperti misalnya insiden mati lampu.

Bicara soal pesangon, saya jadi ingat pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah, mengajar aplikasi Office di sebuah politeknik D-1 di Surabaya. Walaupun gaji saya (sudah termasuk stock option) besarnya tidak lebih dari Rp. 300.000 (pada tahun 2001), tapi waktu mengundurkan diri (bukan dipecat) dengan masa kerja 3 bulan, saya mendapat pesangon SEPASANG SANDAL KULIT no less.

Jadi, sepertinya tidak berlebihan kalau saya berpendapat bahwa tidak memberikan pesangon, apalagi sampai mengutang gaji terakhir, adalah perilaku yang bukan saja tidak fair, tapi juga tidak sopan.

Tetap tabah pak, semoga pekerjaan berikutnya lebih baik.


OpenOffice 2.0

Tadi malam, saya baru saja mencoba OpenOffice 2.0. Ya ya ya .. saya tau .. telat banget ya. Ya mau bagaimana lagi, saya sudah merasa cukup dengan OpenOffice 1.1.3 yang terinstal menggunakan apt-get bawaan Debian Sarge. Saya tidak gunakan fitur-fitur canggih, dan semua berjalan dengan lancar.

Di rumah, istri saya sudah bolak-balik menyuruh saya untuk menghapus Windows permanently (tidak untuk diinstal lagi). Windows di rumah hanya digunakan untuk bermain game saja. Untuk kegiatan produktif saya menggunakan Linux. Istri saya juga menggunakan Linux untuk membuat laporan keuangan keluarga, membuka email, mengikuti mailing list, dan kadang-kadang chatting.

Masalahnya, adik saya masing sering bermain game di Windows. Jadi masih ada alasan untuk mempertahankan Windows. Ketika akhirnya si Windows ini terjangkiti Rontokbro, hilang sudah alasan saya untuk mempertahankannya.

Akhirnya saya instal Ubuntu terbaru ke partisi Windowsnya. Sorry Bill and Steve. Nothing personal, it’s all business.

Di Ubuntu, OpenOffice yang terinstal adalah versi 2.0. Sekilas tidak ada perbedaan signifikan selain beberapa perbedaan letak tombol dan toolbar. Saya coba untuk mengerjakan buku saya “Menggunakan Subversion” dengan OpenOffice 2.0.

Layout sudah selesai. Tinggal mencoba hasil printnya. Karena di rumah tidak ada printer, saya export ke PDF untuk diprint di kantor atau di rumah tetangga. Di sinilah baru terlihat kecanggihan OpenOffice 2.0.

PDF yang dihasilkan lengkap dengan Table Of Content. Lihat screenshot, sebelah kiri. Sudah ada Table of Contents yang bisa diklik. Output seperti ini belum bisa dihasilkan oleh OpenOffice 1.1.3. Screenshot Acrobat Reader with Bookmarks

Hmm… saya jadi ingin segera upgrade ke 2.0. Ada yang tau caranya instal 2.0 untuk Sarge?