Living life and Make it Better

life, learn, contribute

Endy Muhardin

Software Developer berdomisili di Jabodetabek, berkutat di lingkungan open source, terutama Java dan Linux.

Turut Berduka Cita

Dengan ini saya mengucapkan turut berbelasungkawa atas dilay-off nya rekan seperjuangan dari jaman kost di Adhyaksa dulu.

Lay-off –atau bahasa Indonesianya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)– walaupun pahit, merupakan hal yang sangat wajar di dunia kerja. Saking wajarnya, sekarang sudah ada reality show yang mengeksploitasi momen-momen emosional pada waktu orang dipecat. Acara ini juga sudah dibuat versi Indonesianya.

Meskipun wajar dan lumrah, ada beberapa hal yang saya sesalkan atas kejadian ini. Pertama, adalah tenggang waktunya yang begitu singkat. Kedua, masalah pesangon yang tidak jelas.

Kalau kita mengundurkan diri dari perusahaan (berhenti atas kemauan sendiri), umumnya kita diminta untuk menyampaikan pemberitahuan terlebih dahulu. Tenggang waktu antara pemberitahuan dan hari terakhir bekerja bervariasi. Ada perusahaan yang minta waktu dua minggu –seperti yang dialami Sandra Bullock–, dan ada juga yang sebulan.

Itu yang terjadi dari sisi perusahaan, apabila kita yang memecat perusahaan (alias mengundurkan diri). Tapi bagaimana jika sebaliknya?

Jika perusahaan butuh waktu untuk menggantikan karyawan yang resign, karyawan yang dipecat juga idealnya diberikan tenggang waktu yang wajar untuk berusaha menggantikan periuk nasinya. Tiga hari sangat tidak cukup untuk browsing dan memasukkan lamaran di website lowongan kerja. Apalagi kalau memperhitungkan faktor apes seperti misalnya insiden mati lampu.

Bicara soal pesangon, saya jadi ingat pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah, mengajar aplikasi Office di sebuah politeknik D-1 di Surabaya. Walaupun gaji saya (sudah termasuk stock option) besarnya tidak lebih dari Rp. 300.000 (pada tahun 2001), tapi waktu mengundurkan diri (bukan dipecat) dengan masa kerja 3 bulan, saya mendapat pesangon SEPASANG SANDAL KULIT no less.

Jadi, sepertinya tidak berlebihan kalau saya berpendapat bahwa tidak memberikan pesangon, apalagi sampai mengutang gaji terakhir, adalah perilaku yang bukan saja tidak fair, tapi juga tidak sopan.

Tetap tabah pak, semoga pekerjaan berikutnya lebih baik.


OpenOffice 2.0

Tadi malam, saya baru saja mencoba OpenOffice 2.0. Ya ya ya .. saya tau .. telat banget ya. Ya mau bagaimana lagi, saya sudah merasa cukup dengan OpenOffice 1.1.3 yang terinstal menggunakan apt-get bawaan Debian Sarge. Saya tidak gunakan fitur-fitur canggih, dan semua berjalan dengan lancar.

Di rumah, istri saya sudah bolak-balik menyuruh saya untuk menghapus Windows permanently (tidak untuk diinstal lagi). Windows di rumah hanya digunakan untuk bermain game saja. Untuk kegiatan produktif saya menggunakan Linux. Istri saya juga menggunakan Linux untuk membuat laporan keuangan keluarga, membuka email, mengikuti mailing list, dan kadang-kadang chatting.

Masalahnya, adik saya masing sering bermain game di Windows. Jadi masih ada alasan untuk mempertahankan Windows. Ketika akhirnya si Windows ini terjangkiti Rontokbro, hilang sudah alasan saya untuk mempertahankannya.

Akhirnya saya instal Ubuntu terbaru ke partisi Windowsnya. Sorry Bill and Steve. Nothing personal, it’s all business.

Di Ubuntu, OpenOffice yang terinstal adalah versi 2.0. Sekilas tidak ada perbedaan signifikan selain beberapa perbedaan letak tombol dan toolbar. Saya coba untuk mengerjakan buku saya “Menggunakan Subversion” dengan OpenOffice 2.0.

Layout sudah selesai. Tinggal mencoba hasil printnya. Karena di rumah tidak ada printer, saya export ke PDF untuk diprint di kantor atau di rumah tetangga. Di sinilah baru terlihat kecanggihan OpenOffice 2.0.

PDF yang dihasilkan lengkap dengan Table Of Content. Lihat screenshot, sebelah kiri. Sudah ada Table of Contents yang bisa diklik. Output seperti ini belum bisa dihasilkan oleh OpenOffice 1.1.3. Screenshot Acrobat Reader with Bookmarks

Hmm… saya jadi ingin segera upgrade ke 2.0. Ada yang tau caranya instal 2.0 untuk Sarge?


Aggregator on Windows

Beberapa hari yang lalu saya bertanya kepada Benny, “Ben, kok RSS di blog loe gak dinyalain”. Jawabannya cukup ironis, mengingat dia adalah Very Senior, One and the Only, The Undisputed, Champion of the World, Lead Programmer di salah satu vendor e-learning terkemuka di Indonesia. Dia bilang, “Emang RSS itu apa, dan kenapa penting?”.

Alhasil saya jawab, “Ya penting, supaya pembaca (dalam hal ini saya), tidak perlu bolak balik ke blogmu setiap hari cuma untuk ngecek ada artikel baru atau ngga. Dengan menggunakan RSS Reader/Aggregator, kita bisa mendaftarkan RSS orang lain. Nanti dia akan periksa secara periodik ke semua website yang didaftarkan. Setiap ada artikel baru nanti kita dapat ringkasannya. Dengan cara ini, kita bisa ikuti bukan saja blog, tapi juga situs website berita yang penting. Misalnya The Server Side, yang membahas trend terbaru di dunia Java.”

Di Linux, saya sendiri biasanya menggunakan Akregator. Walaupun di komputer saya masih beta, tapi berfungsi dengan sangat baik dan handal. Dia juga bisa duduk manis docking di tray, di sebelah teman setianya KMail. Jadi tidak bikin penuh taskbar (tapi bikin penuh tray umpel-umpelan sama Kaffeine MP3 Player, Gaim, KGet, dan aplikasi background lain, sama aja boong :P).

Karena merasa tidak bertanggung jawab kasi informasi sepotong-sepotong, saya lalu Google untuk mencari padanan Akregator di Windows. Berikut hasil temuan saya:

  1. Ampheta

  2. Feed Explorer

  3. Feed Reader

  4. Great News

  5. Omea Reader

  6. Fuzzy Duck

dan masih banyak lagi tercantum di Wikipedia.

Dari yang saya list di atas, saya coba instal semuanya. Yang berhasil cuma dua, Feed Reader dan Great News. Sisanya gagal instal (Segmentation Fault) atau minta .Net diinstal dulu. Untuk catatan, saya pakai Windows 2000 Professional Service Pack terbaru dan tidak pernah ketinggalan Automatic Update.

Feed Reader sangat menyebalkan. Sulit digunakan. Great News lebih baik. Nyaman digunakan dan bisa masuk ke tray. Kelihatannya juga tidak terlalu berat.

Sebetulnya, kalau Anda menggunakan Mozilla Thunderbird, tidak perlu bingung cari aggregator, karena Thunderbird sudah mampu berlangganan RSS feed.

Kira-kira demikian tentang aggregator. Silakan mencoba. Semoga bermanfaat.


Windows tak sulit lagi

Akhirnya, setelah dua hari bergulat dalam kompetisi Windows Wrestling Championship (WWC), saya menemukan titik terang.

Solusi akhirnya adalah:

  1. Gunakan XAMPP satu versi lebih rendah, yaitu 1.4.16. Versi ini dapat menjalankan Bugzilla dan Subversion tanpa masalah.
  2. Mailserver bawaan XAMPP, yaitu Mercury, sangat sulit digunakan. Jadi -sesuai saran rekan saya-, saya menggunakan hMailserver. aplikasi mail server yang opensource dan sangat mudah digunakan. Membuat virtual domain dan user account sangat mudah. Cocok sekali kalau kita butuh mail server percobaan untuk coding.

Jadi, dengan solusi ini saya dapat melakukan training dengan minimal instalasi di komputer peserta. Satu-satunya aplikasi yang harus diinstal adalah ActivePerl. Untungnya aplikasi ini mudah diuninstall sehingga tidak mengotori sistem.

Terima kasih untuk Benny atas saran dan masukannya.


Windows semakin sulit

Masih ingat cerita kemarin tentang sulitnya menggunakan Windows? Ternyata kesulitan itu belum berakhir.

Sedikit cerita latar belakang, saya ingin mengadakan training Bugzilla dan Subversion. Yang mana Bugzilla adalah aplikasi bug tracker berbasis web yang dibuat menggunakan Perl. Sedangkan Subversion adalah aplikasi version control yang salah satu metode aksesnya bisa melalui web.

Berikut dependensi Bugzilla:

  1. Perl, berikut modul-modul khusus untuk Bugzilla
  2. Webserver (Apache)
  3. Database server (MySQL)

Dan dependensi Subversion + Akses HTTP adalah:

  1. Webserver (harus versi 2.0, 1.3 tidak bisa, 2.2 harus kompile sendiri)
  2. mod_dav

Nah sekarang, Perl sudah berhasil diinstal menggunakan ActivePerl, MySQL dan Apache juga sudah bisa diinstal dengan XAMPP.

Masalahnya adalah, ternyata XAMPP itu menggunakan Apache 2.2. Dengan demikian, Bugzilla bisa jalan, Subversion tidak bisa.

Kemudian saya coba pakai Uniform server, yang menggunakan Apache 2.0. Setelah dicoba, entah kenapa Subversion tetap tidak bisa diakses, walaupun versi Apachenya benar. Tidak ada error message ataupun petunjuk mengapa Uniform server mogok jalan (setelah ditambah konfigurasi Subversion).

Ada lagi aplikasi paket yang lain, yaitu Server2go. Tetapi setelah diperiksa ternyata Apachenya 1.3. Gagal maning…. :(

Alternatif terakhir: fully manual. Dijamin akan membuat peserta training histeris, karena harus:

  1. Instal Perl
  2. Instal Apache
  3. Instal MySQL
  4. Instal PHP (agar bisa manage MySQL pakai PHPMyAdmin)
  5. Instal Subversion
  6. Konfigurasi mod_dav
  7. Instal Bugzilla
  8. Instal Mail Server (supaya Bugzilla bisa kirim email)
  9. Setup file hosts atau Instal DNS (supaya mail servernya gak cuma localhost)

Yah, kegiatan di atas akan memakan waktu 2 hari untuk dijelaskan ke peserta training. Belum lagi ada error. Dan itu baru kegiatan instalasi, belum masuk ke materi. Padahal alokasi waktu untuk training cuma 1 hari.

Sekarang saya lagi mau coba ApacheTriad dan XAMPP versi lebih rendah. Mudah-mudahan berhasil.

Seandainya para peserta itu pakai Linux saja ….