Living life and Make it Better

life, learn, contribute

Endy Muhardin

Software Developer berdomisili di Jabodetabek, berkutat di lingkungan open source, terutama Java dan Linux.

Belajar Java, mulai dari mana?

Ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke saya, baik melalui Y!, email, ataupun tatap muka di kelas.

Saya sendiri belajar Java secara otodidak. Tidak melalui bangku kuliah (saya kuliah Teknik Industri), tidak juga ikut kursus atau pelatihan. Pada waktu itu -sekitar tahun 2002- milis jug-indonesia dan jlinux belum seramai sekarang. Sehingga untuk konsultasi dan tanya-jawab agak sulit. Perlu diperhatikan juga bahwa pada masa itu blog belum ngetren. Jarang ada blog yang membahas pemrograman Java dalam bahasa Indonesia.

Singkat kata, resource di internet tidak sebanyak saat ini (awal 2006).

Sebelum mulai belajar Java, kemampuan teknis saya adalah sebagai berikut:

  • Bisa menggunakan Linux, tapi sebatas user, bukan administrator ahli.

  • Mengerti tentang basic networking (IP Address, Subnet, cara kerja DNS, dan sedikit tentang routing)

  • Mengerti sedikit tentang relational database. SELECT, INSERT, UPDATE sih bisa.

  • Bisa PHP sedikit-sedikit. Cuma bisa HelloWorld, dan simpan isian form HTML ke dalam database. Tapi untuk aplikasi skala besar belum pernah buat.

Dengan modal pas-pasan seperti itu, saya berhasil diterima bekerja di sebuah kursus pendidikan franchise dari India. Waktu itu mereka baru membuka cabang di Surabaya, dan saya masuk sebelum grand-launching dilakukan.

Karena masih baru, siswa peserta kursus juga masih sedikit.Seingat saya, sehari cuma ada satu kelas selama 4 jam sehari. 4 jam sisanya, 20 perangkat komputer terbaru terhubung dengan jaringan termasuk satu asisten lab (tidak lain dan tidak bukan adalah saya) praktis menjadi pengangguran. Internet di sana dial-up, tapi ada beberapa buku pelajaran dan referensi di perpustakaan mini.

Waktu luang banyak, komputer banyak, buku banyak, internet agak lemot. Ya sudah, akhirnya saya ngoprek saja sendirian. Instruktur di sana, walaupun native speaker India, nampaknya kurang kompeten, sehingga kalo tanya ke dia, yang ada malah tambah bingung.

Minggu-minggu pertama saya habiskan membuat website dengan PHP. Berusaha bikin Content Management System kecil-kecilan. Tapi karena belum pengalaman, yang ada malah berantakan. Pengguna bukannya menjadi mudah malah menjadi sulit, karena untuk posting artikel harus mengerti HTML dan PHP :D. Padahal niatnya mau memudahkan. Yah, mau bagaimana lagi … ada masanya ketika kita masih muda dan bodoh :P

Bosan dengan PHP, saya mulai lihat-lihat buku di perpustakaan. Ada VB, Java, Windows 2000 Server, Oracle, dan sebagainya. Entah karena background saya yang pengguna Linux, saya kurang tertarik belajar VB. Selain itu, instruktur di sana (menganggap dirinya) master VB. Jadi saya tidak mau kompetitif dengan belajar VB juga. Oracle terlalu sulit buat saya (waktu itu). Instalasi saja sulitnya setengah mati. Installernya terlalu banyak tanya ini-itu yang saya gak ngerti apa jawabannya. Windows 2000 Server juga kelihatan kurang menarik. Jadilah akhirnya saya pilih belajar Java saja.

Saya coba belajar dari buku yang ada. Referensinya waktu itu Core Java vol 1 dan 2 karangan Cay Horstmann. Belakangan saya tau kalo buku itu sangat bagus dan lengkap. Ada beberapa konsep rumit seperti anonymous inner class yang dijelaskan dengan sangat baik di sana. Tapi untuk pemula, Core Java itu relatif sulit dimengerti.

Sekitar sebulan saya berputar-putar mencari cara belajar dan referensi yang bagus. Karena kualitas dan kecocokan referensi dengan cara belajar kita akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan belajar.

Setelah browsing ke website Sun, saya berhasil menemukan tutorial Java dan dokumentasi Java. Ini merupakan referensi yang benar-benar cocok buat saya. Dengan bermodalkan dua bahan tersebut, akhirnya dua bulan berikutnya menjadi terang-benderang.

Satu demi satu konsep Java saya pelajari:

  1. Sintaks dan Semantic (for loop, statement, if-else, dsb)

  2. Konsep OOP

  3. Implementasi Class dan Object di Java

  4. Package

  5. I/O

  6. Collection

  7. Swing

  8. Thread

  9. JDBC

  10. dsb

Sampai akhirnya saya lumayan bisa membuat aplikasi desktop sederhana yang mengakses database.

Pada bulan keempat, saya masuk ke kantornya instruktur dan menemukan buku baru. Modul pelatihan Java Servlet. Wah, ada mainan baru. Segera saja saya coba semua contoh kodenya. Lumayan dari buku tersebut saya bisa memahami web.xml, servlet, dan application server. Waktu itu Tomcat belum terkenal seperti sekarang. Saya pakai Java Web Server untuk mendeploy servlet.

Sekitar enam bulan kemudian, saya sudah cukup mengerti apa itu EJB (waktu itu masih versi 1.x) dan bisa mendeploy EJB kecil-kecilan.

Kemudian saya ditugaskan menjadi dosen di Stikom, sebagai bagian dari paket kerjasama kursus tempat saya bekerja dengan Stikom. Di sana lebih banyak teman diskusi dan buku.

Dari titik ini, perjalanan belajar Java menjadi lebih mudah. Karena selain perpustakaan cukup lengkap, milis java juga sudah lumayan aktif. Sehingga saya dapat mainan baru seperti Hibernate dan Ant.

Sudah cukup panjang ceritanya. Pesan moral dari cerita ini adalah:

  1. Dengan waktu luang dan referensi yang tepat, belajar Java secara otodidak sangat mungkin dilakukan

  2. Download tutorial dan dokumentasi Java yang dikeluarkan Sun.

  3. Banyak berlatih (saya berlatih 6-8 jam sehari, setelah jam kantor saya masih stay untuk belajar)

  4. Untuk dapat melakukan poin #1 dan #2, kemampuan bahasa Inggris (read-only sudah cukup) wajib dimiliki.

Sedikit saran dari saya, cobalah berkontribusi di milis. Baik bertanya maupun menjawab. “Bagaimana kalo saya menjawab tapi jawabannya salah? Nanti diketawain … “ Jangan takut. Menjawab itu bagian dari belajar. Ini berarti kita mengujicoba pemahaman kita terhadap sesuatu.

Kalau pemahaman kita benar, komunitas akan memperkuat, dan kadang menambahkan sudut pandang yang berbeda sehingga pengetahuan kita semakin kaya. Kalau kita salah, akan ada yang mengoreksi. Sehingga pemahaman kita yang salah tersebut tidak akan terbawa sampai tua dan terungkap dalam event yang jauh lebih memalukan.

Nada-nada pedas dan komentar tidak ramah jangan sampai mengendurkan semangat. Anggap saja sebagai biaya kursus, karena : “Hei, ternyata bertanya di milis gak bayar. GRATIISS !!!”

Ok, selamat belajar mandiri :D


Java: Tidak untuk Pemula

Beberapa kali sepanjang perjalanan hidup, saya berkesempatan untuk mengajarkan Java kepada orang lain. Satu hal yang saya simpulkan dari pengalaman tersebut adalah “Java kurang cocok bagi pemula”.

Beberapa orang yang tidak setuju sekarang sedang bersiap-siap menggulung scroll-bar ke bawah, ke bagian komentar, untuk menumpahkan uneg-unegnya. :D Tapi sabar dulu, baca sampai selesai dan Anda akan mengerti maksud saya.

Sebelum kita mulai, mari definisikan dulu kata “pemula”. Pemula yang saya maksudkan adalah orang yang sama sekali belum pernah coding. Bisa memformat harddisk tidak masuk hitungan.

Ok, sekarang bayangkan Anda adalah seorang pemula. Bersemangat tinggi ingin belajar pemrograman, soalnya kayaknya titel programmer terlihat keren di kartu nama. Berdasarkan hasil browsing dan chatting di sana-sini, kata orang sih sekarang jamannya Java. Baiklah, mari kita belajar Java.

Anda ikut training Java -seperti lazimnya sopan santun di dunia pemrograman- hal pertama yang diajarkan instruktur adalah Hello World.

Instruktur: Selamat pagi bapak dan ibu. Sekarang kita akan belajar Hello World. Silahkan buka Notepad, dan ketik kode berikut:

public class HelloWorld {
  public static void main(String[] xx){
    System.out.println("Hello World");
  }
}

Instruktur: Dengan kode di atas, kita akan dapat mencetak tulisan “Hello World” ke layar. Bagaimana? Hebat kan?

Peserta: !@#$%[sumpah serapah disensor :P ]. Sama sekali tidak hebat. Apa itu class? Kenapa harus public? Apa artinya void? static? Berarti ada dynamic dong? Apa bedanya kurung kotak [] dengan kurung bulat () dan kurung kurawal {} ? …. [lagi-lagi disensor karena pertanyaan terlalu banyak]

Java, memang adalah bahasa yang mature. Sudah stabil (artinya tidak terlalu banyak perubahan fundamental) dan sudah teruji digunakan berbagai aplikasi besar dengan sukses. Tetapi tidak berarti mudah bagi pemula.

Seperti pada contoh sederhana di atas, sebetulnya baris yang ingin kita ajarkan adalah:

System.out.println("Hello World");

Tapi ada banyak baris lainnya yang ikut muncul. Karena ya di Java untuk Hello World memang itu kebutuhan minimalnya. Bandingkan dengan:

Ruby

puts "Hello World"

PHP

echo("Hello World");

Perhatikan bahwa saya tidak mempermasalahkan urusan kompile dan eksekusi, karena itu memang sudah konsep dasar Java bahwa source code harus dikompilasi.

Jadi, kesimpulannya adalah untuk mengajarkan Hello World, kita juga harus mengajarkan tentang:

  1. Apa itu class

  2. Akses level untuk class dan method, kalo gak pake public gimana? Gak bisa diakses di luar package. Jadi, harus ajarkan juga tentang ….

  3. Apa itu package

  4. Konsep method dan return value

  5. Array

  6. Perbedaan class method (static) dan instance method

Waaa … :( Berdasarkan keterangan di atas, saran saya untuk yang belum pernah coding sebelumnya adalah belajar dengan bahasa lain dulu. Misalnya PHP yang sintaksnya agak mirip. Nanti kalo sudah tau apa itu array, function, class, object, baru belajar Java.

Ini akan membuat hidup jadi lebih mudah untuk yang belajar, juga untuk yang mengajari.


Katak dalam tempurung

Rupanya standar pengetahuan bagi programmer ala saya banyak mendapat protes di sana sini. Tidak hanya itu sebetulnya. Beberapa waktu yang lalu saya sempat posting di milis tentang standar pengetahuan seorang dosen pemrograman juga ala saya, yang pada intinya adalah:

  • keep on learning, termasuk cara pakai version control
  • bikin aplikasi yang berkualitas production (bukan cuma demo)
  • sering-sering live coding Rupanya banyak orang yang walaupun setuju, menganggap standar saya terlalu tinggi dengan alasan antara lain:

  • standar tersebut tidak berlaku bagi freshman, tapi hanya untuk experienced
  • dosen tidak perlu bisa teknis praktis (seperti menggunakan version control), cukup asisten lab saja. Dosen mah, teoritis saja.
  • bukan bagian saya (kan sudah ada DBA, Network Admin, Architect, dsb)
  • menurut spesifikasi Sun, tidak perlu bisa semua itu Menurut saya, berbagai pendapat di atas ada benarnya. Tetapi mari kita tinggalkan sejenak soal benar-salahnya pendapat dan melihat dari perspektif lain.

Harus diakui, kita sangat jauh ketinggalan dalam hal teknologi informasi. Di luar negeri sana, dosen tidak hanya sekedar mengoceh di dalam kelas menjelaskan Teori Automata. Dia membuat implementasi parser, menyumbangkan parser tersebut menjadi open source, dan tidak lupa memasang foto konyol di website parser tersebut.

Di tempat lain, ada yang membuat version control yang mampu mengelola file binary (bukan hanya teks) dengan efisien. Tidak dapat diragukan, orang tersebut mengerti lebih dari satu algoritma diff untuk file binary, membandingkan semuanya, dan memilih yang paling baik. Dan ini dilakukan di waktu luang, sambil bermain musik.

Bagaimana dengan di Indonesia? Hmm .. pakai version control saja tidak bisa, apalagi bikin version control.

Dengan kenyataan seperti itu, sepertinya kita santai sekali kalau menganggap standar saya terlalu tinggi.

Seharusnya standar itu diset empat kali lebih tinggi lagi. Kenapa?

Begini.. misalnya standar kita sama dengan standar mereka, maka selisih pengetahuan kita dengan orang-orang bule tersebut akan tetap. Jadi kalo sekarang mereka 10 tahun lebih maju, pada 5 tahun yang akan datang kita akan tetap 10 tahun ketinggalan.
Iya dong, mereka kan juga berkembang.

Nah, kalo standar kita lebih tinggi daripada mereka, maka setiap tahun kita akan bisa menyusul sedikit demi sedikit, sehingga pada suatu saat nanti (hopefully) kita akan sama cerdas dan maju dengan mereka.

Jadi, sampai kapan kita mau terus berpuas diri? Seperti katak dalam tempurung. Kita kira kepala sudah menyundul langit, padahal yang dikira langit cuma batok kelapa. Sampai suatu saat ada orang yang menendang batok tersebut dan si katak (hopefully bukan kita) sadar kalo tempurung != langit.

Beruntung kalo cuma ditendang orang sehingga si katak sadar. Kalo digilas metromini? Gak sempat lihat langit deh. Sampai mati tetap beranggapan tempurung == langit.

Ok, mau sampai kapan santai terus? Mudah-mudahan tidak sampai semua emas, minyak, hutan Indonesia dihabiskan bule sehingga kita tinggal punya utang.

Mari belajar, berkarya, dan berkontribusi buat komunitas.


Menghadang spam secara sederhana

Rupanya tidak di Indonesia saja orang yang kurang kerjaan. Mentang-mentang sekarang gampang sekali mendapatkan akses internet, segerombolan orang kurang kerjaan seenaknya menginstal aplikasi spammer.

Spam di email saya kebanyakan (sekitar 80%) isinya adalah iklan obat dan software. Sedangkan di blog, hampir semuanya adalah judi online.

Lama-lama bosan juga memoderasi komentar orang-orang.
Jadi begitu ada waktu luang, saya segera eksplorasi mencari plugin anti-spam untuk Wordpress. Hasilnya, ada beberapa alternatif, misalnya Akismet, yang sudah terinstal secara default pada WP 2.0.

Sayangnya aktifasi Akismet membutuhkan API key yang didapat dengan cara daftar di wordpress.com. Karena saya malas daftar, akhirnya browsing ke dokumentasi Wordpress.

Di sana menemukan plugin sederhana tapi ampuh. Idenya seperti CAPTCHA, tapi lebih sederhana. Tidak menggunakan image, melainkan cukup dengan operasi tambah-tambahan sederhana.

Yah cukuplah untuk menangkis spambot. Silahkan coba pluginnya dengan cara memberikan komentar.


Interview Java

Hasil interview online saya dengan Sony AK sudah dipublish.

Silahkan baca sendiri.