Living life and Make it Better

life, learn, contribute

Endy Muhardin

Software Developer berdomisili di Jabodetabek, berkutat di lingkungan open source, terutama Java dan Linux.

Pesan Buku Subversion

Berkat posting Ifnu yang berapi-api, buku Subversion saya sudah banyak yang pesan. Ini kenyataan yang menggembirakan, mengingat saya belum banyak berpromosi.

Ini dia gambar sampul depannya.

Sampul Depan Buku Subversion

Sedangkan ini sampul belakangnya.

Sampul Belakang Buku Subversion

Silahkan lihat dulu daftar isinya untuk mengetahui apa saja yang dibahas dalam buku ini.

Bab 1 dan Bab 2 boleh didownload secara cuma-cuma.

Tebal buku 160 halaman.

Pertanyaan yang sering ditanyakan adalah,

Saya sudah cari di toko buku, tapi tidak ada. Bagaimana cara mendapatkannya?

Jawabannya, tentu saja tidak ada. Soalnya buku ini saya terbitkan sendiri tanpa melalui penerbit. Jadi, distribusinya juga mandiri alias melalui kantor pos terdekat.

Sementara ini, website untuk pemesanan masih sedang dibuat. Walaupun demikian, buku Subversion dapat dipesan dengan empat langkah mudah:

  1. Kirim email pemesanan ke endy [at] artivisi [dot] com. Sebutkan nama dan alamat Anda. Pastikan alamatnya benar, supaya tukang pos tidak tersesat.

  2. Transfer pembayaran ke

* BCA KCP Dewi Sartika Jakarta, rekening 273 124 336 2 atas nama Endy Muhardin. 


* Mandiri KCP Dewi Sartika Jakarta, rekening 0 7 0000 4860 255 atas nama Endy Muhardin. 
  1. Harga buku Rp. 50.000. Ongkos kirim Jabodetabek Rp. 6.000, di luar Jabodetabek Rp. 10.000. Setelah transfer dilakukan, beri tahu saya tentang pembayaran ini melalui email. Cantumkan nominal transfer, rekening asal, dan waktu transaksi untuk memudahkan verifikasi.

  2. Segera setelah pembayaran saya terima, buku akan segera dikirim. Dalam beberapa hari, tergantung jauh dekatnya, buku akan sampai di tangan Anda.

Ongkos kirim yang dijadikan patokan adalah Jakarta - Bogor dengan menggunakan Kilat Tercatat Kantor Pos. Saya masih mencari alternatif pengiriman yang lebih murah. Bila ada yang punya saran agar ongkos kirim lebih murah, jangan ragu untuk memberi tahu saya.

Terima kasih atas pesanan Anda. Kalau ada keluhan, silahkan kirim email ke saya supaya diperbaiki.


Interface vs Abstract class

Kapan pakai interface, dan kapan pakai abstract class?

Pertanyaan menarik ini muncul di milis jug-indonesia. Karena jawabannya cukup panjang, jadi saya copy-paste, sesuaikan sedikit, dan posting di blog.

First of all, ini pertanyaan advanced. Kapan pakai interface, dan kapan pakai abstract class itu cuma bisa dipahami dengan coding banyak-banyak (learning by doing), berpikir secara abstrak, dan banyak belajar desain aplikasi. Jadi jangan berkecil hati kalau Anda bingung setelah membaca artikel ini. Bukannya Anda tidak berbakat coding, tapi hanya kurang jam terbang saja.

Berikut jawaban saya.

Abstract class itu digunakan untuk mengimplementasikan pattern Template Method. Sedangkan interface digunakan (diantaranya) untuk mengimplementasikan pattern Observer.

Pakai interface bila satu class mau memiliki beberapa tipe data. Di Java, tipe data ditentukan oleh interface dan class. Mengacu pada buku Design Pattern, interface digunakan untuk menerapkan pattern Observer.

Contoh mudahnya seperti ini. Misalnya kita membuat aplikasi GUI. dan menggunakan komponen text (JTextArea). Komponen ini memiliki beberapa method untuk mengaktifkan event handling, beberapa diantaranya:

  • addMouseListener(MouseListener msl) : merespon gerakan mouse
  • addCaretListener(CaretListener cls) : merespon gerakan kursor

Kalau kita definsikan class seperti ini:

public class EventLog implements MouseListener, CaretListener {}

maka class EventLog bisa diumpankan pada kedua method di atas, karena class EventLog bertipe data EventLog, MouseListener, dan juga CaretListener.

Lalu, kapan kita menggunakan abstract class? Salah satunya apabila kita ingin membuat Template Method.

Kutipan dari Design Pattern GoF

By defining some of the steps of an algorithm using abstract operations, the template method fixes their ordering, but it lets Application and Document subclasses vary those steps to suit their needs.

Seperti kita ketahui, Template Method itu salah satu methodnya concrete dan (sebaiknya) final.

Contoh template method bisa dilihat di implementasi AbstractFormController di Spring Framework.

Untuk non-pengguna Spring, AbstractFormController itu mendefinisikan workflow pemrosesan HTML form. Method yang perlu diperhatikan di sini adalah method handleRequestInternal. Isi method ini kira2 seperti ini (dimodifikasi agar mudah dimengerti):

protected void handleRequestInternal() {
    bindDataDariForm();
    setelahBindSebelumValidasi();
    validasiData();
    setelahValidasi();
    processFormSubmission();
}

Seperti kita lihat di atas, method ini memanggil beberapa method lain secara berurutan. Urutan ini penting, karena kita tidak mau validasi dipanggil setelah form diproses. Apa gunanya validasi kalau pemrosesan sudah selesai?

Class AbstractFormController ini punya abstract method, yaitu:

public abstract void processFormSubmission();

Kenapa dibuat abstract? Karena pada saat menulis kode tersebut, Rod Johnson tidak tahu apa yang kita ingin lakukan pada saat form diproses. Ada yang mau simpan ke database, ada yang mau kirim email, dan berbagai kegiatan lain yang tidak terbayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, method ini dibuat abstract, sehingga kita harus membuat implementasinya (override)

Nah, kita sebagai end-user, biasanya hanya perlu mengimplement method processFormSubmission tersebut. Method lainnya hanya dioverride apabila perlu. Misalnya kita ingin pakai logika validasi sendiri, atau ada pemrosesan khusus setelah validasi.

Teknik Template Method ini tidak bisa diimplement dengan interface, karena harus ada method concrete handleRequestInternal yang berfungsi untuk mendefinsikan workflow.

Demikian, mudah-mudahan bisa dimengerti.


Presentasi Ruthless Testing

Saya akan berbicara pada pertemuan rutin komunitas Java, JaMU (Java Meet Up). Acaranya akan diadakan di kantor Sun Microsystem, Sabtu, 27 Januari 2006.

Tema yang akan saya bawakan adalah Ruthless Testing. Materi ini sudah dibahas pada beberapa artikel di blog ini. Silahkan datang langsung ke kantor Sun untuk mengikuti presentasinya. Gratis, tidak dipungut biaya. Anda tidak harus menguasai Java untuk bisa hadir.

Materi presentasi bisa dilihat secara online.

Presentasi dibuat menggunakan perangkat canggih bernama S5 (Simple Standards-Based Slide Show System), tools yang dibuat Eric Meyer, pakar CSS. Dengan S5, presentasi dapat dibuka oleh mayoritas browser yang digunakan masyarakat. Tidak tergantung lagi pada OpenOffice apalagi Microsoft Office.

Selamat membaca … sampai ketemu di JaMU.


Intro JMS

Pada artikel ini, kita akan coba buat demo penggunaan JMS menggunakan Spring Framework dan ActiveMQ. Spring Framework 2.0 telah dilengkapi dengan helper class untuk memudahkan kita menggunakan JMS (Java Messaging Service). Sayangnya dokumentasi di Spring Reference kurang lengkap, sehingga ada beberapa bagian yang harus kita cari sendiri.

Jangan khawatir, bagian yang kurang tersebut bisa dibaca di artikel ini.

Berikut skenario yang ingin saya buat:

  1. Jalankan JMS server (kali ini saya gunakan ActiveMQ)

  2. Siapkan MessageListener, yang akan bereaksi bila menerima pesan pada destination tertentu

  3. Kirim beberapa pesan ke destination yang didengarkan oleh MessageListener

  4. Pastikan pesan tersebut diterima dengan baik

Kita akan buat kasus sederhana saja, melibatkan tiga class:

  • Sender.java : pengirim pesan

  • Receiver.java : penerima pesan (MessageListener)

  • Main.java : class untuk menjalankan pengirim dan penerima

Berikut adalah kode programnya.

Sender.java

package tutorial.spring.jms;

import javax.jms.JMSException;
import javax.jms.Message;
import javax.jms.Session;
import org.springframework.jms.core.JmsTemplate;
import org.springframework.jms.core.MessageCreator;

public class Sender {
	private String message = "default message";
	private JmsTemplate jmsTemplate;
	
	public void setJmsTemplate(JmsTemplate jmsTemplate) {
		this.jmsTemplate = jmsTemplate;
	}

	public void setMessage(String message) {
		this.message = message;
	}

	public void send() {
		jmsTemplate.send(new MessageCreator(){
			public Message createMessage(Session sess) throws JMSException {
				return sess.createTextMessage(message);
			}			
		});
	}
}

Receiver.java

package tutorial.spring.jms;

import javax.jms.JMSException;

public class Receiver implements MessageListener {

	public void onMessage(Message msg){
		if (msg instanceof TextMessage) {
			TextMessage txtMsg = (TextMessage) msg;
			try {
				System.out.println(txtMsg.getText());
			} catch (JMSException e) {
				e.printStackTrace();
			}
		} else {
			System.out.println("Unsupported message type : "+msg.getClass());
		}
	}	
}

Main.java

package tutorial.spring.jms;

import org.springframework.context.ApplicationContext;
import org.springframework.context.support.ClassPathXmlApplicationContext;

public class Main {
	public static void main(String[] args) {
		ApplicationContext ctx = new ClassPathXmlApplicationContext("jms-ctx.xml");
		Sender sender = (Sender) ctx.getBean("sender");
		
		sender.setMessage("Percobaan menggunakan JMS dengan Spring. ");		
		sender.send();
		
		sender.setMessage("Pesan ini seharusnya diterima oleh Message Driven POJO");
		sender.send();
	}
}

Integrasi antara kode Java dan ActiveMQ diatur di konfigurasi Spring, jms-ctx.xml. Berikut kodenya.

jms-ctx.xml

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE beans PUBLIC "-//SPRING//DTD BEAN 2.0//EN" "http://www.springframework.org/dtd/spring-beans-2.0.dtd">
<beans>

	<bean id="messageListener" class="tutorial.spring.jms.Receiver" />
	<bean id="listenerContainer" class="org.springframework.jms.listener.SimpleMessageListenerContainer">
		<property name="connectionFactory" ref="jmsConnectionFactory"/>
		<property name="destinationName" value="TEST.FOO"/>
		<property name="messageListener" ref="messageListener"/>
	</bean>
	
	<bean id="jmsConnectionFactory" class="org.apache.activemq.ActiveMQConnectionFactory">
		<constructor-arg index="0"><null/></constructor-arg>
		<constructor-arg index="1"><null/></constructor-arg>
		<constructor-arg index="2" value="tcp://localhost:61616"></constructor-arg>
	</bean>	
	
	<bean id="sender" class="tutorial.spring.jms.Sender">
		<property name="jmsTemplate" ref="jmsTemplate"/>		
	</bean>

	<bean id="jmsTemplate" class="org.springframework.jms.core.JmsTemplate">
		<property name="connectionFactory" ref="jmsConnectionFactory"/>
		<property name="defaultDestinationName" value="TEST.FOO"/>
	</bean>

</beans>

Apabila kita ingin menggunakan JMS server yang lain (selain ActiveMQ), cukup ganti deklarasi jmsConnectionFactory pada jms-ctx.xml di atas. Destination name juga di-hard code dengan nilai TEST.FOO. Nantinya pada aplikasi nyata, nilai ini mungkin ingin kita konfigurasi lebih jauh, atau diparameterisasi dalam database.

ActiveMQ mendukung dynamic destination creation, artinya destination TEST.FOO akan dibuatkan bila belum ada. Pada aplikasi server JMS yang lain, mungkin kita harus membuat TEST.FOO secara manual di server tersebut.

Selamat mencoba, semoga sukses.


Google "endy"

Masukkan keyword “endy” di Google Indonesia. Lihat hasil search paling atas …

[Google Search "endy". Klik untuk memperbesar ](/images/uploads/2007/01/endy-google-search-crop.png)