Living life and Make it Better

life, learn, contribute

Endy Muhardin

Software Developer berdomisili di Jabodetabek, berkutat di lingkungan open source, terutama Java dan Linux.

Membuat validasi dalam aplikasi

Pertanyaan berikut muncul di milis netbeans-indonesia, “Di mana sebaiknya kita menulis aturan validasi? Di database, di business layer, atau di presentation layer?”

Saya pikir, pasti banyak juga yang memiliki kebimbangan serupa. Oleh karena itu, jawaban saya tulis di artikel ini.

Menurut saya, validasi itu idealnya di semua layer, mulai dari database, business logic, dan presentation layer (UI).

Kenapa di database harus ada validasi (dengan menggunakan database constraint) adalah karena data umurnya akan lebih panjang dari aplikasi. Front end bisa ditulis ulang dengan apapun teknologi/framework yang sedang populer, sedangkan data sekali sudah disimpan, biasanya akan terus ada dalam waktu yang lama.

Kalau kita tidak pakai constraint di database, begitu aplikasi kita usang dan diganti (misal tadinya desktop jadi web) maka databasenya jadi ‘telanjang’ tanpa validasi, sehingga rawan kemasukan data kotor. Dan siapa yang bisa memastikan database kita tidak diakses aplikasi lain? Mungkin sekarang tidak … tapi tahun depan ketika ada kebutuhan baru, bisa saja ada orang lain yang mengembangkan aplikasi di atas database kita tersebut.

Di sisi lain, validasi di presentation layer juga penting, supaya round-trip nya tidak terlalu panjang. Katakanlah kita punya layer seperti ini: presentation –> business –> data access

Kalau cuma ada validasi database, maka kita perlu meng-catch SQLException untuk kemudian diteruskan ke depan, entah itu as-is SQLException ataupun dienkapsulasi menjadi DataAccessException dan kemudian dibungkus lagi menjadi BusinessLayerException. Apalagi kalau aplikasinya ada di mesin berbeda. Ongkos perjalanan Exceptionnya jadi mahal. Itu makanya penting validasi di presentation layer.

So … idealnya validasi ada di semua layer.

Tapi ini tidak berarti saya menganjurkan untuk menulis kode validasi di semua layer lho. Kode program itu idealnya tidak boleh terduplikasi. Logika validasi hanya ditulis sekali. Kalau aturan yang sama ditulis berkali-kali nanti pasti akan datang masanya kita (atau orang lain yang mewarisi kode program kita) mengganti aturan di satu tempat, dan lupa mengganti di tempat lain. Jadi, untuk setiap aturan, harus satu kali saja menulisnya.

Banyak cara agar codingnya cukup satu kali saja, misalnya mendefinisikan constraint dengan Hibernate, dan biarkan dia yang menggenerate DDL. Biasanya constraint unique, required, dan semacamnya akan langsung dibuatkan database constraintnya.

Kemudian di presentation layer, buat aturan validasi yang dinamis, yang bisa membaca hibernate annotation dan kemudian menggenerate rutin validasi baik itu JavaScript (kalau aplikasinya web), atau pemanggilan method Java (kalau itu Swing).

Demikian pendapat saya tentang validasi. Bagaimana menurut Anda?


Menggunakan HermesJMS

Kalau kita ingin membuat aplikasi menggunakan database, tentunya hal pertama yang kita lakukan adalah menginstal server database. Selanjutnya, langkah kedua adalah menginstal aplikasi untuk mengelola database. Paling tidak, kita harus bisa membuat tabel, melihat isi tabel, mengisi ataupun menghapus data ke dalam tabel.

Demikian juga kalau kita membangun aplikasi menggunakan JMS (Java Messaging Service). Sebelum membuat Hello JMS, terlebih dulu kita harus menginstal JMS server dan aplikasi yang dapat melihat isi JMS Server tersebut.

Pada artikel kali ini, kita akan menginstal JMS Server ActiveMQ dan aplikasi pengelolaan JMS yang bernama HermesJMS.

ActiveMQ dan HermesJMS dapat diunduh di websitenya masing-masing.

Setelah diunduh, terlebih dulu kita instal ActiveMQ. Caranya sangat gampang, cukup diekstrak saja. Saya meletakkannya di folder /opt

<code>cd /opt
sudo tar xvzf apache-activemq-4.1.1.tar.gz
</code>

Setelah diekstrak, kita bisa langsung jalankan dari folder instalasinya.

<code>cd /opt/apache-activemq-4.1.1
bin/activemq</code>

Kalau sukses, akan muncul log message seperti ini:

<code>INFO  TransportServerThreadSupport   - Listening for connections at: tcp://sweetdreams:61616
INFO  TransportConnector             - Connector openwire Started
INFO  TransportServerThreadSupport   - Listening for connections at: ssl://sweetdreams:61617
INFO  TransportConnector             - Connector ssl Started
INFO  TransportServerThreadSupport   - Listening for connections at: stomp://sweetdreams:61613
INFO  TransportConnector             - Connector stomp Started
INFO  NetworkConnector               - Network Connector default-nc Started
INFO  BrokerService                  - ActiveMQ JMS Message Broker (localhost, ID:sweetdreams-32991-1188983887811-1:0) started
</code>

Server kita sudah siap diakses di port 61616.

Sekarang kita akan menginstal HermesJMS. Inipun instalasinya tidak sulit, cukup jalankan saja installernya.

<code>java -jar hermes-installer-1.12.jar</code>

Nantinya akan muncul layar instalasi. Klik saja Next … Next … seperti biasa sampai selesai.

Setelah Hermes berhasil diinstal, jalankan Hermes. Berikut adalah tampilan awalnya. Hello Hermes

Selanjutnya, kita akan menambahkan koneksi ke server ActiveMQ kita. Buka menu Options - Preferences, kemudian pilih tab Classpath di sisi bawah panel. Belum ada classpath group

Selanjutnya, klik kanan di panel kosong tersebut dan masukkan classpath group baru bernama ActiveMQ. Tambah Classpath Group

Nanti akan muncul entri ActiveMQ dengan tab dibawahnya yang bertulisan Library. Klik kanan tepat pada tulisan Library dan pilih Add Jar. Kita harus menambahkan beberapa jar berikut:

  • apache-activemq-4.1.1.jar

  • backport-util-concurrent-2.1.jar

  • geronimo-j2ee-management_1.0_spec-1.0.jar

Semua file tersebut dapat ditemukan di lokasi instalasi ActiveMQ.

Setelah konfigurasi dilakukan, layar tampilannya akan tampak seperti ini: Classpath ActiveMQ

Tutup layar Preference, dan buka lagi. Entah kenapa kalau tidak ditutup dulu, pilihan ActiveMQ tidak akan keluar.

Di layar Preference tab Session, ketikkan nama Session yang baru, yaitu ActiveMQ. Klik Apply, nantinya Hermes akan menanyakan apakah ini session baru atau bukan. Jawab saja, “Ya, ini adalah session baru”.

Selanjutnya, ganti pilihan Loader menjadi ActiveMQ, dan pilih ActiveMQ Connection Factory pada pilihan Class. Hasilnya akan nampak seperti ini: Session Baru ActiveMQ

Setelah selesai, session ActiveMQ akan muncul di panel sebelah kiri. Konfigurasi Session ActiveMQ

Kita bisa membuat queue baru di session tersebut. Gunakan tombol Create New Queue. Membuat Queue

Pembuatan queue pada layar ini bersifat sementara. Artinya, bila HermesJMS dimatikan, Queuenya akan hilang. Untuk membuat Queue yang permanen, kita dapat mendefinisikannya pada layar konfigurasi session.

Queue yang sudah dibuat dapat dilihat di panel sebelah kiri. Queue Browser

Pada queue yang sudah terbentuk, kita bisa mengirim Text Message. Gunakan menu Messages - Send TextMessages. Kita harus memilih satu text file untuk dikirim.

Setelah pengiriman selesai dilakukan, refresh tampilan sehingga message baru tersebut muncul. Browse Message

Kita dapat mengambil message tersebut dengan menggunakan kode program Java sebagai berikut.

<code>package tutorial.jms;

import javax.jms.Connection;
import javax.jms.ConnectionFactory;
import javax.jms.JMSException;
import javax.jms.Message;
import javax.jms.MessageConsumer;
import javax.jms.Queue;
import javax.jms.Session;
import javax.jms.TextMessage;

import org.apache.activemq.ActiveMQConnection;
import org.apache.activemq.ActiveMQConnectionFactory;

public class HelloQueueReceiver {
	public static void main(String[] args) throws Exception {
		ConnectionFactory factory = new ActiveMQConnectionFactory(
				ActiveMQConnection.DEFAULT_USER,
				ActiveMQConnection.DEFAULT_PASSWORD,
				ActiveMQConnection.DEFAULT_BROKER_URL);
		System.out.println("Connecting to: "+ActiveMQConnection.DEFAULT_BROKER_URL);
		System.out.println("With username : "+ActiveMQConnection.DEFAULT_USER);
		System.out.println("and password : "+ActiveMQConnection.DEFAULT_PASSWORD);
		
		Connection conn = factory.createConnection();
		System.out.println("Connected");
		
		Session sess = conn.createSession(false, Session.AUTO_ACKNOWLEDGE);
		System.out.println("Session created");
		
		Queue destination = sess.createQueue("coba");
		System.out.println("Queue created");
		
		MessageConsumer consumer = sess.createConsumer(destination);
		System.out.println("Consumer created");
		
		System.out.println("Fetching message");
		conn.start();
		int counter = 1;
		while(true) {			
			Message msg = consumer.receive(1000);
			if (msg == null) break;
			System.out.println("Retrieving message #"+counter++);
			System.out.println("Message fetched");
			if (msg instanceof TextMessage) {
				TextMessage txtmsg = (TextMessage) msg;
				System.out.println("Message ID: "+txtmsg.getJMSMessageID());
				System.out.println("Message Content: "+txtmsg.getText());
			}
		}
		
		
		System.out.println("Closing connections");
		consumer.close();
		sess.close();
		conn.close();
		System.out.println("All closed");
	}
}
</code>

Setelah kode program di atas dijalankan, refresh queue browser di Hermes. Harusnya pengambilan message tersebut akan menghapus message di server.

Kita juga bisa mengirim message menggunakan kode program berikut.

<code>package tutorial.jms;

import javax.jms.Connection;
import javax.jms.ConnectionFactory;
import javax.jms.JMSException;
import javax.jms.MessageProducer;
import javax.jms.Queue;
import javax.jms.Session;
import javax.jms.TextMessage;

import org.apache.activemq.ActiveMQConnection;
import org.apache.activemq.ActiveMQConnectionFactory;

public class HelloQueueSender {
	public static void main(String[] args) throws JMSException {
		ConnectionFactory factory = new ActiveMQConnectionFactory(
				ActiveMQConnection.DEFAULT_USER,
				ActiveMQConnection.DEFAULT_PASSWORD,
				ActiveMQConnection.DEFAULT_BROKER_URL);
		System.out.println("Connecting to: "+ActiveMQConnection.DEFAULT_BROKER_URL);
		System.out.println("With username : "+ActiveMQConnection.DEFAULT_USER);
		System.out.println("and password : "+ActiveMQConnection.DEFAULT_PASSWORD);
		
		Connection conn = factory.createConnection();
		System.out.println("Connected");
		
		Session sess = conn.createSession(false, Session.AUTO_ACKNOWLEDGE);
		System.out.println("Session created");
		
		Queue destination = sess.createQueue("coba");
		System.out.println("Queue created");
		
		MessageProducer prod = sess.createProducer(destination);
		TextMessage msg = sess.createTextMessage();
		msg.setText("Hello JMS");
		
		prod.send(msg);
		System.out.println("Message sent");
		
		prod.close();
		sess.close();
		conn.close();
	}
}
</code>

Setelah kode program di atas dijalankan, kita dapat merefresh queue browser di Hermes untuk memastikan bahwa kode program kita berhasil mengirim message.

Demikianlah, dengan menggunakan HermesJMS, kita dapat memeriksa secara visual apakah kode program kita dapat mengakses JMS Server dengan benar.


Network Address Translation

NAT adalah singkatan dari Network Address Translation.

Gunanya supaya kita bisa mempublish komputer di internal (misal, IP dalamnya : 192.168.0.1) ke internet (misal, IP luarnya : 202.159.11.11). Atau agar komputer di jaringan dalam bisa berbagi pakai akses internet.

Setiap request ke satu komputer, komputer asal mengirim paket data ke komputer tujuan. Mirip dengan kalau kita kirim surat. Pesannya ditulis di kertas, masukkan amplop, tulis alamat penerima dan alamat pengirim.

Contoh paketnya kira-kira seperti ini.

Dari  : 202.159.22.22
Untuk : 202.159.11.11
Pesan : halo

Gateway harus punya mapping IP luar dan IP dalam. Begitu gateway terima paket yang ditujukan ke IP luar, dia akan membungkus paket tersebut dengan amplop baru, alamat tujuannya diganti dengan IP dalam. Proses ini dinamakan DNAT (Destination NAT).

Bila alamat tujuan tidak diganti, maka routernya akan bingung, karena dia tidak tahu IP luar itu mesinnya yang mana.

Kalau di Linux, ini dilakukan dengan perintah iptables. Contohnya adalah sebagai berikut:

iptables -t nat -I PREROUTING -d 202.159.11.11 --to-destination 192.168.0.1 -j DNAT

Setelah diDNAT, paketnya menjadi seperti ini:

Dari  : 202.159.22.22
Untuk : 192.168.0.1
Pesan : halo

Setelah itu, amplop lewat proses routing. Router akan bisa menyampaikan paket tersebut, karena dia kenal 192.168.0.1 itu mesin yang mana.

Akhirnya paket sampai di tujuan.

Dengan menggunakan DNAT ini, kita bisa mempublikasikan mesin di jaringan internal agar bisa diakses dari luar.

Bagaimana jika sebaliknya?

Penerima akan mengirim balasan. Dia masukkan ke amplop, kirim ke router. Router akan lihat bahwa tujuannya adalah komputer di luar, maka dia kirim ke gateway.

Paketnya kira-kira seperti ini:

Dari  : 192.168.0.1
Untuk : 202.159.22.22
Pesan : halo juga

Gateway melihat bahwa alamat pengirim adalah IP dalam. Kalau diteruskan begitu saja, maka kalau ada balasan lagi, tidak akan sampai, karena IP dalam tidak dikenal di luar. Jadi dia harus membungkus lagi dengan amplop lagi, kali ini yang diganti adalah alamat pengirim. IP dalam diganti dengan IP public. Proses ini dinamakan SNAT (Source NAT)

Contohnya adalah sebagai berikut:

iptables -t nat -I POSTROUTING -s 192.168.0.1 --to-source 202.159.11.11 -j SNAT

Setelah diSNAT paketnya menjadi seperti ini:

Dari  : 202.159.11.11
Untuk : 202.159.22.22
Pesan : halo juga

Dengan menggunakan SNAT, kita bisa mengimplementasikan Internet Connection Sharing, yaitu satu koneksi internet dibagi beramai-ramai.

Ada satu kasus khusus untuk SNAT, namanya Masquerade. Ini digunakan apabila IP public yang digunakan berubah-ubah. Misalnya kalau kita pakai dialup connection.

Kalau kita nekat pakai SNAT, nanti akan repot, karena harus update rule setiap dial ke internet.

Jadi, kita gunakan masquerade. Berikut perintahnya:

iptables -t nat -I POSTROUTING -p tcp -s 192.168.0.1 -j MASQUERADE

Perhatian: Jangan lupa untuk mengaktifkan IP Forwarding di gateway dengan perintah

cat 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward

Rangkaian perintah ini akan hilang pada saat reboot. Jadi harus ada usaha tambahan agar konfigurasi ini jadi permanen. Caranya, tergantung masing-masing distro. Biasanya, kita simpan dulu ke file menggunakan perintah iptables-save

iptables-save > /etc/iptables/rules.v4

Kemudian file tersebut kita load menggunakan perintah iptables-restore

iptables-restore < /etc/iptables/rules.v4

Agar berjalan setiap kali booting, panggil perintah iptables-restore dari script rc.local. Lokasi script ini berbeda antar distro, untuk keluarga Debian terletak di folder /etc.

Sayangnya saat ini iptables hanya ada di Linux, dan nampaknya tidak akan ada versi Windowsnya. Karena iptables sangat tightly-coupled dengan kernel linux.

Untuk Windows, kita dapat gunakan fitur Internet Connection Sharing apabila ada. Beberapa versi Windows (misalnya XP Home), tidak punya fitur ini. Jadi solusinya adalah dengan menggunakan aplikasi tambahan seperti misalnya WinGate atau WinRoute.


Konfigurasi mod_jk

Ada kalanya, kita ingin mempublikasikan aplikasi Java kita melalui Apache HTTPD, webserver paling populer dan paling banyak digunakan di dunia.

Beberapa alasan untuk melakukan ini antara lain:

  • Kita ingin menjalankan Tomcat dalam cluster, diakses melalui satu pintu gerbang, yaitu Apache HTTPD

  • Kita tidak ingin membuka port 8080 ke seluruh dunia, cukup buka port 80 dan 443 saja. Sedangkan di port 80 sudah ada aplikasi lain (PHP, Rails, whatever) yang dihosting di atas Apache HTTPD

  • Kita ingin melayani static page dengan Apache HTTPD, dan dynamic page dengan Tomcat

  • Dan masih banyak alasan lain.

Konfigurasi ini saya lakukan di Ubuntu Feisty 7.04. Langkah-langkahnya relatif mirip untuk distro lain, yang kalau disimpulkan terdiri dari:

  1. Install Apache

  2. Install Tomcat

  3. Deploy Aplikasi Java di Tomcat

  4. Install mod_jk

  5. Konfigurasi worker

  6. Konfigurasi virtual host

Baiklah, mari kita mulai saja.

Instalasi Apache

Saya gunakan Apache 2.2 yang disediakan oleh repository Ubuntu. Instalasi sangat mudah: sudo apt-get install apache2

Setelah instalasi selesai pastikan webserver sudah berjalan dengan baik dengan cara mengakses http://localhost

Instalasi Tomcat

Kita bisa menginstal Tomcat melalui apt-get, tetapi saya lebih suka menggunakan cara manual. Unduh dari situsnya, kemudian ekstrak di folder /opt.

cd /opt
sudo tar xvzf apache-tomcat-xx.tar.gz

Setelah itu, jalankan Tomcat.

sudo /opt/tomcat/bin/startup.sh

Jangan lupa mengatur environment variable JAVA_HOME ke tempat instalasi Java SDK Anda sebelum menjalankan Tomcat.

Periksa keberhasilan instalasi Tomcat dengan cara browse ke http://localhost:8080

Deploy Aplikasi Java

Pada saat ini, kita sudah bisa mendeploy aplikasi Java ke Tomcat, tepatnya di folder [TOMCAT_HOME]/webapps. Untuk mudahnya, kita tidak akan instal aplikasi, tapi menggunakan tomcat-docs yang sudah disediakan Tomcat.

Install mod_jk

Instalasi mod_jk di Ubuntu sangat mudah, cukup lakukan sudo apt-get install libapache2-mod-jk

mod_jk akan diinstal dan langsung diaktifkan.

Sebelum mod_jk bisa bekerja dengan benar, kita harus melakukan sedikit konfigurasi. Saya membuat file konfigurasi di /etc/apache2/mods-available/jk.conf. Letak file konfigurasi tidak penting, yang penting adalah file tersebut dibaca oleh Apache. Silahkan baca-baca manual konfigurasi untuk distro Anda

Berikut adalah isi file /etc/apache2/mods-available/jk.conf.

JkWorkersFile /etc/apache2/mods-available/workers.properties
JkShmFile     /var/log/apache2/mod_jk.shm
JkLogFile     /var/log/apache2/mod_jk.log
JkLogLevel    info
JkLogStampFormat "[%a %b %d %H:%M:$S %Y] "

Seperti kita lihat di baris pertama, ada referensi ke file workers.properties. Kita akan bahas file ini di bagian selanjutnya.

Sisa file ini mendefinisikan konfigurasi log file.

Konfigurasi Workers

File workers.properties mendefinisikan semua worker yang tersedia. Worker adalah Tomcat yang akan melayani request ke aplikasi Java. Untuk mengaktifkan clustering, kita bisa mengkonfigurasi banyak worker sekaligus. Saat ini, sebagai contoh kita akan mengkonfigurasi satu saja dulu.

Berikut adalah isi file workers.properties

worker.list=worker1
worker.worker1.type=ajp13
worker.worker1.host=localhost
worker.worker1.port=8009

Konfigurasi Virtual Host

Terakhir, kita akan mengkonfigurasi virtual host agar Apache HTTPD dapat melakukan forwarding dengan benar. Pada contoh ini, kita akan mengarahkan request ke http://localhost/tomcat-docs agar dilayani oleh Tomcat. Berikut konfigurasi Virtual Hostnya.

<VirtualHost>
    JkMount /tomcat-docs/* worker1
</VirtualHost>

Jika ingin mempublikasikan banyak aplikasi Java sekaligus, duplikasi saja baris JkMount di atas agar mengarah ke masing-masing aplikasi kita yang sudah dideploy di dalam folder [TOMCAT_HOME]/webapps.

Konfigurasi virtual host di atas bisa digabungkan dengan konfigurasi lain seperti repository Subversion, Ruby on Rails, dan sebagainya. Cukup selipkan baris JkMount di dalam blok VirtualHost.

Letak konfigurasi Virtual Host berbeda antar distro. Di keluarga Debian, konfigurasinya ada di folder /etc/apache2/sites-available.

Setelah selesai, coba restart Apache HTTPD. Kalau semua berjalan lancar, dokumentasi Tomcat yang tadinya hanya bisa diakses di http://localhost:8080/tomcat-docs/ sekarang juga bisa diakses di http://localhost/tomcat-docs/. Perhatikan perbedaan portnya, yang belakangan dilayani oleh Apache HTTPD.

Selamat mencoba :D


Continuous Integration dengan Luntbuild

Setelah pada artikel sebelumnya kita menggunakan CruiseControl –sempat dikomentari sebagai XML Sit Ups– kali ini kita akan menggunakan Luntbuild, Continuous Integration Tools yang konfigurasinya tidak menggunakan XML sama sekali.

Sama seperti CruiseControl, untuk menjalankan Continuous Integration, kita memerlukan:

  • Repository Subversion yang berisi source code, lengkap dengan folder trunk dan release

  • Code Review, Unit Test, Integration Test, Coverage Test yang lengkap

  • File build.xml yang memiliki target untuk menjalankan semua test

Struktur folder repository juga masih sama seperti artikel sebelumnya. Kita tidak membuat baru, melainkan langsung menggunakan repository pada artikel sebelumnya.

Untuk menjalankan Luntbuild, kita memerlukan:

  • Luntbuild installer

  • Apache Ant 1.7.0

  • Apache Tomcat 5.5

  • Java SDK 6.0

Installer Luntbuild dapat diunduh di sini.

Cara instalasinya tidak sulit, begitu kita dapatkan file instalasinya, buka command prompt, dan masuk ke folder tempat installer tersebut berada. Kemudian jalankan installernya.

$ cd Downloads
$ java -jar luntbuild-1.4.2-installer.jar

Tampilan instalasi Luntbuild akan segera tampil. Klik saja Next untuk melewati Release Note dan License Agreement, sampai pada pertanyaan lokasi instalasi.

Lokasi Instalasi Luntbuild

Di komputer saya, saya pilih lokasi /opt/luntbuild-1.4.2 sebagai lokasi instalasi. Klik Next, dan lanjutkan ke konfigurasi database.

Instalasi Database

Di sini saya tidak mengubah setting apa-apa. Langsung saja lanjutkan sampai menemui pertanyaan username dan password administrator.

Setup Administrator Password

Saya masukkan luntbuild123 sebagai passwordnya. Kita juga akan ditanyai lokasi instalasi Tomcat agar Luntbuild bisa segera menginstal aplikasi webnya di sana. Entah apa yang terjadi, di komputer saya pilihan ini tidak berpengaruh apa-apa. Seharusnya installer akan membuat folder luntbuild di dalam [TOMCAT_INSTALL]/webapps. Setelah instalasi selesai saya tetap harus membuat folder luntbuild di dalam [TOMCAT_INSTALL]/webapps secara manual dan mengkopi semua isi [LUNTBUILD_INSTALL]/web ke dalamnya.

Setelah semua layar berhasil dilalui, instalasi selesai. Kita bisa langsung jalankan Tomcat, dan browse ke http://localhost:8080/luntbuild. Jika instalasi berjalan benar, maka kita akan disambut oleh Luntbuild

Halaman Depan Luntbuild

Secara default, kita login secara anonymous. Untuk bisa mengkonfigurasi project, kita harus logout dulu. Kita akan segera melihat halaman login.

Login Page

Masukkan username luntbuild dan password luntbuild123, sesuai yang kita isikan pada waktu instalasi. Kita akan melihat daftar builder yang masih kosong.

Segera klik tab Project, dan klik tombol New Project di kanan atas. User interface Luntbuild kurang intuitif, sehingga saya harus berusaha keras mencari tombol tersebut. Halaman New Project segera tampil.

Create New Project

Masukkan nama project dan berikan keterangan, lalu Save.

Selanjutnya, kita klik tab VCS.

No VCS Yet

Di tab ini kita melakukan konfigurasi untuk version control. Luntbuild mendukung berbagai merek version control. Pilih Subversion pada drop down yang tersedia.

Add New Subversion Repo

Untuk konfigurasi di komputer saya, isinya adalah sebagai berikut:

  1. Repository url base : svn://localhost

  2. Directory for trunk : trunk

  3. Directory for branches : kosongkan saja, karena project contoh ini tidak memiliki branch

  4. Directory for releases : releases/daily-build

  5. Username : endy. Ini adalah username yang digunakan Luntbuild untuk checkout dan membuat tag. Idealnya kita buatkan user khusus untuk Luntbuild

  6. Password : 123

  7. Quiet Period : kosongkan saja, ini tidak dibutuhkan untuk Subversion yang sudah mendukung atomic commit.

Ada sedikit keanehan Luntbuild. Dia mengharuskan kita membuat modul. Kalau dia tidak menemukan modul, maka akan keluar pesan error. Oleh karena itu, kita klik New Module, lalu langsung saja save tanpa mengisi apa-apa.

Hasil akhir dari tab VCS kita akan nampak seperti ini.

VCS Subversion

Berikutnya, kita masuk ke tab berikutnya untuk konfigurasi Builder.

No Builder Yet

Satu project bisa memiliki banyak builder. Dengan builder, kita bisa mengatur sejauh mana kita ingin melakukan build. Contoh beberapa build yang mungkin digunakan adalah:

  • Unit test: hanya menjalankan unit test saja, mungkin dijalankan setiap 1 jam sekali.

  • Full test: menjalankan semua jenis test, dijalankan sebelum jam makan siang dan sore sebelum pulang

  • Nightly/Daily build : dijalankan sekali sehari, selain menjalankan semua test, juga menghasilkan *jar atau *war. Jenis build ini biasanya dikonfigurasi untuk menghasilkan tag di version control apabila sukses.

Klik tombol New Builder untuk mengkonfigurasi build. Karena kita menggunakan Ant, pilih Ant pada dropdown yang tersedia.

Ant Builder

Pada contoh ini, kita akan mengkonfigurasi Build Jar. Sekali sudah paham konsepnya, tidak sulit untuk mengkonfigurasi jenis build yang lain. Berikut adalah nilai yang saya isikan:

  1. Name : Build Jar

  2. Command for Ant : /opt/apache-ant-1.7.0/bin/ant. Ini adalah path menuju Ant kita.

  3. Build script path : build.xml. Ini adalah nama file build.xml yang ada di project kita

  4. Build target : build-jar. Target Ant yang dipanggil pada saat build berjalan. Saya pilih target build-jar yang mengeksekusi semua test, kemudian membuat *.jar bila test tidak ada yang gagal.

  5. Field sisanya, biarkan saja sesuai default.

Terakhir, kita mengkonfigurasi Schedule, alias jadwal. Ini menentukan kapan build dieksekusi. Untuk Build Jar yang sudah kita konfigurasi, kita ingin dia dijalankan setiap jam 01 dini hari, setiap hari. Berikut isian konfigurasinya.

  1. Name : Nightly Build

  2. Description : build setiap jam 01 dini hari

  3. Next build version : nightly-${#currentDay=system.(year+"-"+numericMonth+"-"+dayOfMonth), #lastDay=project.var["day"].setValue(#currentDay), #dayIterator=project.var["dayIterator"].intValue, project.var["dayIterator"].setIntValue(#currentDay==#lastDay?#dayIterator+1:1), #currentDay}.${project.var["dayIterator"]}. Ini adalah label yang akan diberikan untuk setiap build. String di atas akan menghasilkan label nightly-2007-08-17.1 bila dijalankan pada tanggal 17 Agustus 2007.

  4. Trigger Type: cron. Luntbuild menyediakan dua jenis trigger. Pertama, simple trigger yang berbasis interval.

Dengan simple trigger, kita dapat menjadwalkan build untuk berjalan misalnya setiap dua jam, atau setiap 30 menit. Kedua, cron trigger, yang berbasis waktu. Dengan cron trigger, kita dapat menjalankan build setiap waktu tertentu, misalnya setiap Sabtu, atau setiap hari jam 1 pagi. Untuk menjalankan build setiap jam satu pagi, gunakan cron trigger dengan konfigurasi 0 0 1 * * ?. Luntbuild menggunakan pustaka Quartz untuk melakukan penjadwalan ini. Lebih lanjut tentang konfigurasi jadwal Quartz dapat dilihat di websitenya.

  1. Build necessary condition: vcsModified or dependencyNewer. Buat apa melakukan build kalau belum ada perubahan sejak terakhir kali build berjalan? Inilah maksud dari field ini. Dengan menyebutkan vcsModified, kita menjelaskan bahwa kalau tidak ada perubahan di dalam version control, tidak perlu lakukan build. Selain nilai ini, kita juga bisa menggunakan nilai always, yang artinya tetap build walaupun tidak ada yang commit.

  2. Associated builders. Di sini kita memilih builder mana yang ingin dijalankan.

  3. Associated post builder. Misalnya setelah build sukses dijalankan, kita ingin membuat installer yang siap diunduh. Kita bisa sebutkan hal tersebut di sini.

  4. Label strategy: Label if success. Hanya buat tag di version control bila build sukses.

  5. Notify strategy: notify if status change. Artinya, kirim pemberitahuan apabila status build berbeda dari sebelumnya, misalnya tadinya gagal menjadi sukses, atau sebaliknya.

Demikian sebagian nilai yang harus diisikan. Untuk field yang tidak saya jelaskan, silahkan baca keterangannya atau ikuti saja default.

Setelah semua konfigurasi selesai, kembali ke halaman depan untuk menyaksikan hasil pekerjaan kita. Di sana akan terpampang semua build yang sudah dikonfigurasi.

Daftar build

Kita bisa menjalankan build tersebut secara manual tanpa harus menunggu jatuh temponya. Biasanya kita lakukan build manual untuk mengetes konfigurasi. Build yang sedang berjalan ditandai dengan ikon roda gigi.

Building

Build yang gagal akan ditandai dengan warna merah, sedangkan build yang berhasil diwarnai hijau.

Build Successful

Bila build gagal, tentunya kita ingin melihat apa yang terjadi. Klik build info untuk menampilkan informasinya.

Build Info

Kurang detail? Buka saja lognya. Di sini akan terlihat di langkah yang mana build tersebut berhenti.

Build Log

Demikianlah cara penggunaan Luntbuild. Mudah-mudahan dengan menggunakan perangkat ini proyek software Anda bisa dikelola dengan baik dan teratur.