Living life and Make it Better

life, learn, contribute

Endy Muhardin

Software Developer berdomisili di Jabodetabek, berkutat di lingkungan open source, terutama Java dan Linux.

Persiapan Coding AngularJS 2

Saat ini, framework front end yang kami gunakan di ArtiVisi, AngularJS, sudah merilis versi 2. Walaupun saat ini masih berstatus Beta, tapi menurut developernya sudah bisa digunakan untuk aplikasi berskala besar.

Menurut kabar berita, AngularJS versi 2 ini berbeda 180 derajat dengan versi 1 yang kami gunakan. Sekilas lihat, ternyata memang benar. AngularJS versi 2 ini menggunakan bahasa TypeScript, bukan JavaScript. Kode programnya malah lebih mirip Java daripada JavaScript.

Mumpung perbedaannya sangat signifikan, momen ini bisa digunakan untuk mengevaluasi alternatif lain. Setidaknya ada beberapa kandidat yang sebanding kelasnya (full framework, bukan library):

Bagaimana perbandingannya?

Lanjut membaca ...


JavaScript 2015

Beberapa minggu yang lalu, tim AngularJS merilis versi Beta dari AngularJS versi 2. Masih belum rilis Stable, tapi mereka menjanjikan bahwa versi ini cukup stabil untuk dipakai di production.

Seperti pada tulisan saya sebelumnya, seorang programmer harus selalu siap mempelajari teknologi baru. Setelah melihat tutorial Angular 2, kembali tulisan saya tadi terbukti. Banyak sekali teknologi baru yang belum saya pahami sejak terakhir eksplorasi teknologi di tahun 2014, padahal baru 2 tahun berlalu.

Apa saja teknologi baru tersebut?

Pada artikel ini, kita hanya akan bahas di sisi front-end saja, yaitu client-side JavaScript. Pada lain waktu kita akan bahas di sisi server-side.

Beberapa teknologi yang baru saya pelajari dengan rilisnya Angular 2 Beta ini adalah:

  • Berbagai varian JavaScript : ES5, ES6, CoffeeScript, TypeScript
  • Berbagai sistem modul untuk JavaScript, misalnya : CommonJS, RequireJS, AMD, dan ESM (fitur standar dari ES6)
  • Berbagai library untuk melakukan loading modul, misalnya: browserify, webpack, SystemJS
  • Berbagai framework untuk membuat aplikasi, misalnya: AngularJS, EmberJS, React, Flux
  • Berbagai tools untuk melakukan test, misalnya: Karma, Jasmine, PhantomJS
  • Berbagai tools untuk melakukan proses build dan otomasi, misalnya: Gulp, Grunt, Brunch, Broccoli, Jake, dsb

JavaScript Stack 2015

Wah banyak sekali?

Jangan khawatir, pada tulisan ini, kita akan kupas tuntas garis besarnya.

Kenapa judul artikelnya 2015? Kan sekarang sudah 2016.

Semua yang dibahas di sini adalah kondisi existing di tahun 2015. Di tahun 2016 ini, tentunya akan banyak perkembangan yang lebih canggih lagi.

Lanjut membaca ...


Menjadi Dosen Hi-Tech

Pada posting sebelumnya, saya sudah menjelaskan tentang menjadi mahasiswa yang hi-tech. Yaitu dengan cara memanfaatkan teknologi dalam mengikuti perkuliahan sehingga hasilnya lebih maksimal. Tentunya tidak adil kalau peningkatan di sisi mahasiswa tidak diimbangi oleh dosennya.

Untuk itu, pada artikel kali ini, kita akan membahas bagaimana menjadi dosen yang lihai memanfaatkan teknologi terbaru, agar impact yang dihasilkan dari perkuliahannya menjadi maksimal.

Lanjut membaca ...


Backup dengan Duplicity

Backup itu penting, semua orang tentu setuju. Akan tetapi, berapa orang yang benar-benar melakukannya? Secara rutin? Dengan cara yang benar?

Pada artikel ini, kita akan membahas tentang seluk beluk backup. Apa yang harus diperhatikan, bagaimana cara melakukannya, seberapa sering, dan apa aplikasi yang digunakan.

Backup Station

Foto di atas menunjukkan meja makan yang sedang dikudeta untuk menjalankan prosedur backup ;)

Oh iya, saya membackup harddisk external yang biasa saya bawa-bawa (karena hardisk laptopnya SSD 128GB, sehingga cuma muat buat sistem operasi saja) ke harddisk external yang besar (ditinggal di rumah).

Daftar perangkat:

Peringatan : artikel ini diperuntukkan buat mereka yang memiliki latar belakang teknis yang cukup memadai, khususnya Linux, Mac, dan penggunaan terminal (command prompt).

Bagi mereka yang levelnya user biasa, cukuplah dengan beberapa alternatif berikut:

Nah, untuk advanced users, silahkan meneruskan membaca artikel ini ;)

Lanjut membaca ...


Menggunakan GPG

Pada artikel terdahulu, kita telah membahas asymmetric encryption menggunakan OpenSSL, dan aplikasinya dalam SSL. Teknologi SSL banyak digunakan dalam aplikasi client server, misalnya:

  • Web Server (https)
  • Email Server (SMTP, POP3, IMAP)

Dalam SSL, kita membuatkan keypair yang nantinya akan digunakan oleh aplikasi server (webserver, mailserver) untuk mengenkripsi lalu lintas data yang melalui server tersebut.

Tapi bagaimana kalau kita ingin melakukan enkripsi pada file, chat, atau email kita sendiri? Untuk keperluan personal, kita menggunakan aplikasi yang disebut dengan GPG (Gnu Privacy Guard). GPG ini adalah implementasi dari standar OpenPGP, yang diawali dari aplikasi PGP karya Phil Zimmerman. Bagi yang tertarik dengan pelajaran sejarah, bisa baca ceritanya di Wikipedia.

Di artikel ini, kita akan membahas apa itu GPG, kapan kita menggunakannya, dan bagaimana cara menggunakannya.

Lanjut membaca ...