Living life and Make it Better

life, learn, contribute

Endy Muhardin

Software Developer berdomisili di Jabodetabek, berkutat di lingkungan open source, terutama Java dan Linux.

Membuat Datasource PostgreSQL di Wildfly

Pada kesempatan ini, kita akan melakukan konfigurasi datasource (koneksi database) ke PostgreSQL dalam application server Wildfly 10.1.0.0.Final.

Lanjut membaca ...


Menggunakan Pivotal Web Service

Pada workshop yang diadakan Pivotal kemarin, para peserta dipandu untuk membuat dan menjalankan aplikasi di Pivotal Web Services. Ini adalah layanan cloud PaaS yang disediakan oleh Pivotal untuk menjalankan aplikasi yang kita buat.

Secara garis besar, cara deploymentnya mirip dengan Heroku dan Openshift, seperti yang pernah saya bahas di artikel terdahulu. Perbedaan yang paling mendasar, kalau di Heroku dan Openshift kita mendeploy source code (untuk kemudian dilakukan build di cloud), maka di Pivotal Web Services ini (kita sebut PWS aja ya biar gak capek ngetiknya) kita mendeploy JAR atau WAR.

PWS ini berjalan menggunakan software Pivotal Cloud Foundry (PCF). Aplikasi PCF ini open source dan tersedia untuk diunduh. Jadi, kita bisa memasangnya di server kita sendiri. Mirip dengan Openshift, ada aplikasinya, open source, bisa diinstal di server sendiri (on premise).

Pivotal juga menyediakan versi mini dari PCF, disebut dengan PCF Dev, yang bisa diinstal dengan mudah di laptop kita sendiri. Soalnya kalau kita mau install PCF versi full, lumayan ribet juga, harus paham Linux, platform IaaS, dan juga setup jaringan untuk kebutuhan routing dan DNS. Walaupun demikian, siapkan koneksi internet yang mumpuni, karena setup PCF Dev ini akan mendownload bergiga-giga data.

Sedangkan bila ingin menginstal PCF versi full, bisa membaca dokumentasi di websitenya

Rekan-rekan bisa mengikuti panduan berikut dengan cara mendaftar di PWS. Setelah mendaftar, kita akan diberikan akun gratis untuk periode tertentu. Yuk kita mulai …

Lanjut membaca ...


Pivotal Microservice Workshop

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 24-24 November 2016, saya dan tim ArtiVisi diundang oleh Pivotal untuk menghadiri workshop yang berjudul “Migrating a Monolith Application to Microservices”.

[Migrating Monolith Apps to Microservices](https://lh3.googleusercontent.com/h6hgA1F5t0bAfIe0ccXbAmRFewB4n61brbFx3XfOloXFdbfB7eXfySPUoc7-RgTLhDF-uXMGe2ph=w731-h694-no)

Berikut adalah catatan singkat saya tentang event ini.

Lanjut membaca ...


Membuat Blog dengan Jekyll dan Heroku

Pada artikel terdahulu, kita sudah membahas tentang cara membuat blog gratis di OpenShift. Tapi sayang sekali, saat ini OpenShift tidak lagi menerima pendaftaran baru untuk platform versi 2. Sedangkan platformnya yang baru, yaitu versi 3, membatasi akses gratis hanya 30 hari. Setelah 30 hari, ijin pakai kita berakhir masa pakainya dan aplikasi kita akan dihapus.

Untungnya, masih ada alternatif lain, yaitu Heroku. Pada artikel ini, kita akan membahas cara pembuatan website atau blog gratis dengan Heroku.

Lanjut membaca ...


Edit Video dengan KDEnlive

Sekarang lagi jamannya vlogging, yaitu blogging dalam bentuk video. Sebetulnya saya sudah lumayan lama juga rekam sesi kuliah atau training dan publish ke Youtube. Tapi baru sekarang sempat cerita proses pembuatannya.

Biasanya, saya dan tim ArtiVisi mengedit video menggunakan aplikasi Openshot. Tapi sayangnya aplikasi ini sering sekali crash. Jadi kita tidak boleh lupa save. Dan cukup melelahkan juga kalau sekali klik langsung crash.

Dari postingan di grup DSLR Cinematography, ternyata ada Om Wowo sesama pengguna open source dalam mengedit video. Beliau menggunakan aplikasi KDEnlive.

Ada beberapa fitur unggulan dari KDEnlive, diantaranya adalah:

  • Proxy Editing : KDEnlive bisa membuat versi low-res dari video yang kita akan edit, sehingga lebih ringan pada saat kita maju mundur dan memotong video tersebut. Dibandingkan kita mengedit langsung di file yang jaman sekarang besar-besar dan beresolusi hingga 4K. Proxy file yang dibuat KDEnlive resolusinya hanya 640x480 saja sehingga jauh lebih ringan.
  • Audio Sync : kita biasa merekam audio dan video secara terpisah agar kualitas audionya bisa maksimal. Masalah terjadi ketika ingin menggabungkan file audio dan video ini. Satu clip saja bisa memakan waktu 5-15 menit. Bayangkan bila clipnya ada 10. Bisa habis satu jam sendiri untuk sinkronisasi. Dengan fitur audio sync ini, cukup beberapa klik tombol, audio dan video bisa langsung sinkron.

Dua fitur di atas sangat meningkatkan produktifitas dalam mengedit video. Dan yang paling penting, dibandingkan dengan Openshot, KDEnlive ini jauh lebih stabil. Openshot bisa crash puluhan kali selama beberapa jam saya mengedit, sedangkan KDEnlive ini baru crash dua kali saja selama seharian mengedit.

KDEnlive Screenshot

Pada waktu rendering, KDEnlive juga punya satu fitur penting, yaitu Shutdown after render. Jadi kita bisa start render, kemudian kita tinggal tidur. Setelah selesai rendering, KDEnlive akan mematikan komputer kita.

Penjelasan lebih detail tentang cara mengedit video bisa ditonton di vlog saya di Youtube.